Cui mie



Bikin cui mie enakkk
Aku ga punya pangsit pake pentol bento aja kesukaan almira soale πŸ˜‚

Resep Cui Mie


Buat ayam olahan
0.5 kg dada mentok
5 siung bawang putih cincang
Jahe di geprek sekitar 5-6 cm (ga usah pakai penggaris)
Bumbu sesuai selera misalnya
Lada bubuk
Pala parut
Gula
Garam
Penyedap boleh pakai atau tidak
Kecap asin/raja rasa (salah satu ajah)
Air secukupnya
Membuat toping ayam tabur,
Tumis bawang putih cincang dan jahe, lalu masukkan daging ayam cincang, tmbahkan rajarasa/ kecap asin, lada bubuk, garam, gula secukupnya. masak sampai daging berwarna putih. Kemudian blender (aku tadi ga sempat) daging yg sudah d tumis sebentar td. lalu sangrai sampai halus dan kering. Dengan api kecil ya. Jangan sampai gosong.
Membuat kuah :
masukkan semua bahan, test rasa. Lalu didihkan.
Untuk minyak buat sajian
Minyak wijen
Minyak bekas goreng bawang merah sedap
Cara menyajikan,
rebus mie sampai matang.
Lalu siapkan mangkok dan beri campuran bahan minyak.
Lalu masukkan mie yg sudah direbus, aduk2 dalam mangkok.
beri toping ayam, bawang goreng,
daun prei sledri, acar timun,
selada keriting (lagi ga punya)
krupuk pangsit (lagi ga punya)
dan acar cabe.
La punya e apaaa??
Pentol bento
Jadie cui mie pentol bento. 🐼🐼🐼🐼
Kuah bisa di campur atau di pisah sesuai selera.

Mr Big Semakin Sehat dengan Bloodworm (Kura-kura part-3)

Kura-kura Brazil sehat makan dengan Bloodworm atau cacing beku

Mr Big Semakin Sehat dengan Bloodworm

Setelah aku dan anak anak kehilangan Zidah dua yang mati karena gangguan saluran pernafasan (ditandai dengan mulut yang sering terbuka, hasil googling), kami hanya memiliki satu buah kura-kura yaitu Mr. Big.

Mr. Big memiliki ukuran 6-7 cm, jauh lebih besar dari 3 kura-kura kami yang lainnya yaitu Showa, Zidah satu dan Zidah dua.  Semenjak mengalami kepergian tiga kura-kura tersebut, kami memelihara Big dengan ekstra.  Kami lebih sering mengganti air, mendisiplinkan menjemur di pagi hari, memberi makan rutin yaitu pagi dengan cacing beku dan sore dengan pelet kura yang kami beli di toko ikan.

Pelet kura ini memang jenis pakan kura yang praktis, aman dan mudah sekali ditemukan karena selalu tersedia di toko kebutuhan hewan atau pet shop.  Jika dibaca komposisinya ditemukan ada banyak nutrisi yang dibutuhkan oleh kura-kura.  Dari sekian banyak pelet kura membuat kami awalnya takut memberikan pelet yang salah, karena dari hasuil browsing di internet ternyata ada 2 jenis pelet kura-kura dengan bahan baku yang berbeda-beda.  Jenis bahan baku tumbuhan sangat cocok untuk kura herbivora dan jenis palet bahan baku cacing cocok bagi kura karnivora.

Kami memilih palet dengan bahan baku ikan, udang, cacing dan daging.  Mr Big menyukainya dan melahap pelet tersebut sampai habis.  Sepertinya Mr BIg memang tergolong kura karnivora karena Mr Big tidak pernah mau menyentuh makanan berupa sayur selama ini, saya memberikan potongan wortel, kangkung dan lain-lain tapi tidak pernah disentuhnya maka saya pikir Mr Big menyukai pelet dengan bahan baku cacing dan ikan.

Kami hanya memberi pelet sedikit demi sedikit, yahh tidak lebih dari 20 butir tetapi kami sering memberikannya.  Selain untuk memudahkan kami mengecek apakah dia memakan pelet yang kami berikan alasan lainnya adalah pelet dalam jumlah banyak dapat membuat air keruh dan menyebabkan penyakit bagi kura kura (banyak sumber yang kami baca). Jenis pakan pelet juga tidak boleh terlalu sering diberikan. Sebaiknya selingi pemberian makan pelet dengan jenis makanan yang lain.  Sehingga kami menyelingi dengan cacing beku yang juga bisa dibeli di toko hewan. 

pelet kura-kura yang kami berikan untuk Mr Big, saat makan siang dan sore seperti gambar dibawah ini.  Harga sebotol pellet kura dengan netto 110 gram ini adalah Rp. 10 000, 00 sangat murah.
makanan pellet kura-kura Brazil
pellet kura-kura
Untuk sarapan (wwkkk kaya manusia aja pakai istilah sarapan ya) maksudku makanan pagi setelah di jemur selama 15 menit di pagi hari diberi makan cacing beku.  Jenis cacing beku yang kami beli seperti gambar di bawah ini.  JCacing beku adalah nama jual untuk cacing darah atau Bloodworm yang memang sengaja dibekukan agar dapat disimpan lebih lama (konon katanya dapat disimpan dalam freezer sampai 5bulan). Sebelum diberikan kita buat mencair esnya dengan memasukkannya di air suhu ruang cukup.  Kalo kebiasaan kami memasukkan piece kotak kecil tersebut di akuarium ikan hahaha, cukup lima menit es akan mencair dan siap disajikan pada kura-kura kesayangan. 
cacing beku untuk makanan kura brazil
Cacing beku makanan kura
Setelah diamati semenjak Mr Big diberi makanan cacing beku bloodworm ini semakin terlihat stabil dan jauh lebih sehat.  Makanpun juga sangat lahap ketika diberikan  cacing beku bloodworm ini.  Ternyata Mr Big benar kura-kura karniora ya..

Artikel selanjutnya kita akan membahas khusus blood worm, apa sebenarnya bloodworm ini mengapa sangat disukai oleh kura-kura dan ikan hias yang kami punya, membuat merek bersemangat makan.


Zidah Junior itu bernama Zidah Dua (Kura-kura part 2)




Setelah dua kali kehilangan dua ekor kura-kura yang baru dipelihara 2 minggu, kami memutuskan untuk tidak memelihara bayi kura lagi sampai kami belajar dulu bagaimana cara merawat dengan baik.

AKu dan anak anak membuka youtube tentang perwatan bayi kura-kura Brazil, ternyata disana juga banyak yang menyatakan bayi-bayi kura ini memang rentan mati.  Meski demikian, di youtube juga banyak yang berhasil memelihara kura-kura Brazil hingga usia 7-10 tahun.  Woowww .. gede sekali, tapi entah mengapa banyak kisah ketika mereka sudah besar banyak yang diberikan orang lain alias tidak dipelihara terus.  Banyak alasan, salah satunya menjadi tidak lucu.  HHmmmm.. jika dilihat memang sedikit ngeri jika ukurannya menjadi besar dan makanannya juga cukup banyak.  

Tapi, aku dan anak anak saat ini hanya fokus bagaimana memelihara bayi ikura-kura dan bertahan lama.  Setelah beberapa hari kami menonton video dan bertanya-tanya kepada ahli kura-kura, akhinya kita memutuskan untuk membeli lagi 2 ekor kura-kura pengganti Showa dan Zidah yang telah mati.  
Karena masa pandemi, aku dan suami membeli berdua tanpa anak anak. Seolah seperti orang dewasa yagn paham, sebelum berangkat anak keduaku berpesan.
"Bunda, ingat lo ya kalua beli kura-kura diperhatikan dia tenggelam tidak dalam air? terus juga pilih yang beraktifitas.  Biar Bunda ga salah beli yang sakit. Ingat lo ya!!" Pesan anak keduaku  sebelum kami berangkat, karena dia tidak diijinkan keluar.
"Siap Bukkk!!" Candaku padanya yang ceriwis dan lucu.
Kami membeli di toko ikan yang tidak jauh dari rumah.  Sesampai disana ternyata bersisa 2 ekor kura-kura saja, tanpa bisa memilih.  Mulanya kami ragu untuk membeli karena tidak dapat memilih, keduanya berbeda ukuran yang signifikan.  Satunya sekitar 6 cm satu lagi 3 cm, maunya beli satu saja yang kecil tapi kok kasihan kalau sendirian jadi kami putuskan beli keduanya. 

Penjual, membungkus kura-kura dalam plastik berisi air.  Sampai di mobil, kulihat kura-kura besar yang tidak memunculkan kepalanya sama sekali selama di dalam plastik berbeda dengan yang kecil.  Karena pengalaman membeli kura-kura yang kurang sehat saat beli, maka akupun kembali ke penjual.
"oom, kenapa ya kura-kura yang gede ga mau muncul sama sekali?? apa mati ya oom?? Gimana ini" tanyaku pada penjual.
"Lo tadi muncul kok, ga dia sehat sudah berminggu-minggu dia di sini.  Gapapa itu sehat, mungkin karena masih di taruh dalam plastik" jelasnya.
"Oh, baik oom makasih" kujawab dan lalu pergi pulang .
Sesampai di rumah anak anak berteriak melihat kura-kura yang kami bawa.
"wahh.. lucu bangettt aku kasih nama yang kecil ya, kakak kasih nama yang satunya" permintaan anak keduaku.
"hhmmm siapa ya..ah aku tahu ku ksaih nama Mr Big, karena punya kakak gede sekali" Jawab anak pertamaku mengusulan nama yang dia dasarkan pada ukuran kura yang lebih besar.
"aku mau kasih nama kura-kuraku Zidah lagi bunda ya?" tanyanya dengan ekspresi bingin sudah ziung
"Lo, kok Zidah lagi dek? kan kemarin juga Zidah yang mati sama showa." Tanyaku.
"Gapapa Bunda kan aku suka dengan Zidah atau Showa aja ya.  Zidah aja deh Bunda gapapa.  Namanya Zidah 2 aja" Jelasnya menyakinkan.
"Iya, terserah adek akan adek yang punya.  Jadi, kura-kura kitayang baru Mr. Big dan Zidah Dua ya?" tanyaku kepada mereka.
"iyaaaa...." jawab keduanya.

Kehadiran kedua kura-kura itu lagi-lagi membuat mereka sibuk, ya sibuk memberi makan, sibuk menjemur dan sibuk bermain dengan mereka.  Tidak jarang mereka mengambil kura-kura dari akuarium dan menaruhnya di lantai untuk diajak main.
Sampai pada kejadian, saat di jemur di akium.uarium yang diisi dengan bebatuan itu tampak Zidah Dua terbaik.  Saat itu aku yang pertama kali melihat dan segera membalikkannya kembali.  Entahlah berapa lama ZIdah dua terbaik, yang jelas setelah kejadian itu kami mengurangi jumlah batu agar banya space untuk mereka berenang.  Karena jenis kura-kura Brazil ini adalah kura-kura air.

Zidah Dua dan Rendaman Daun Sirih 

Tetapi setelah beberapa hari, anehnya Zidah dua menjadi suka terapung, berbeda dengan Mr.Big yang lebih suka berenang di dasar akuarium.  Kami coba lihat di youtube mencari informasi dan ternyataaaa kura-kura yang terapung di permukaan salah satu indikasi kura-kurang kurang sehat.

Ada salah satu youtube pecinta hewan reptil menceritakan kesuksesannya merawakura-kura miliknya st kura-kurayang terapung dengan merendamnya di air hangat rebusan daun sirih selama 1 jam.  Vlog yang dia unggah juga menunjukkan kura-kura miliknya sebelum dan sesudah direndam daun sirih selama 5 hari kembali normal dan sehat dapat berenang di dasar air. 

Karena ada daun sirih dekat rumah, kami putuskan untuk merendam Zidah setiap hari di air rebusan daun sirih.  Setelah 4 hari kami merendam ZIdah di pagi hari di air hangat rebusan daun sirih hijau, ternyata Zidah tidak menunjukkan perubahanya dan tetap terapung di permukaan air.  Sedih sekali rasanya apalagi Zidah Dua tidak mau makan apapun, meskipun telah diberikan cacing beku kesukaan kura-kura kecil. 

Sampai aku menyuapinnya dengan cacig beku, tidak sedikitpun dia tergoda untuk memakannya.  Apalagi saat diberi makan kura instan (palet).  Informasi dari loger yang melihara ratusan kura, selain tidak mampu tenggelam di dasar ciri lain kura-kura sakit adalah sering membuka mulutnya karena pernapasannya terganggu. 

Sepertinya usahaku menyuapi ZIdah makanan saat dia sedang membuka mulut, kesalahan fatal karena setelah pagi kusuapin. Siangnya kulihat Zidah sudah diam tak bergerak, iya.. kami kehilangan bayi kura-kra Brazil kami yang ketiga kalinya.  Apalaagi aku merasa bersalah karena ternyata usahaku membuat dia makan justru membuatnya tidak semakin baik.  
Kemudian, kami menguburkannya di depan rumah dan memberikannya batu yang ditulis namanya sama dengan peliharaan kami yang lain baik ikan atau kura dikubur dan anak anak menamai batu sesuai nama mereka.
Selamat jalan Zhidah Dua....
artikel ini juga ditayangkan di blog pribadi: https://keluargadarpa.blogspot.com/


x

Showa dan Zidah Bayi Kura-Kura Brazil (kura-kura part-1)

 Bayi Kura-Kura Brazil

Bayi Kura-Kura Brazil 

Kali ketiga keluarga kami membeli bayi kura-kura Brazil untuk dipelihara di rumah.  Kura-kura sejuta umat ini memang rentan mati, tetapi juga tidak pernah merasa kapok terus membeli.  Bukan tidak memiliki rasa kasihan, tetapi akhirnya kami sedikit lebih banyak memahami cara memelihara mereka di rumah.

Anak-anak sebenarnya sudah memelihara beberapa jenis ikan di akuarium ukuran yang tdak terlalu besar di ruang mereka, tetapi awal ketertarikan membeli kura-kura Brazil ini karena aku menceritakan pada mereka tentang peliharaanku ketika kuliah s1 dulu.

"Bunda, dulu punya kura-kura namanya Cuklee dari kata Cute Kid Turtle yang artinya anak kura-kura yang imut.  Kalo Bunda panggil cukleeeee dia langsung berenang aktif menuju ke permukaan air, seolah tahu kalo Bunda datang pasti akan kasih dia makanan kura (palet)" ceritaku.

"wah, seru Bunda!! Kemana sekaragn kurakuranya?" Tanya anak keduaku.

"sudah lama matilah kasihan sekali sebelum mati dia sempat trauma bertemu orang" Jelasku kemudian

"trauma apa itu trauma?" tanya anak keduaku yang masih usia 5 tahun.

"itu lo dek, seperti ketakutan karena dia pernah mengalami hal buruk" jelas anak pertamaku yang berusia 10 tahun.

"Iya ta Bunda?" tanya si kecil kembali.

"Ya, seperti itu dia trauma bertemu dengan orang." belum selesai aku menjelaskan kedua anakku spontan bertanya bersamaan.

"kenapa bunda kok bisa trauma bertemu orang???? Sama Bunda juga???"

"Iya, sama Bunda juga.  Sedih banget deh saat itu Bunda.  Karena berubahnya drastis banget setelah kejadian dijatuhkan teman Bunda saat itu.  cuklee itu aktif banget sebelumnya jadi penakut dan ga mau mengeluarkan kepalanya saat didekati apalagi di panggil namanya" jelasku kepada mereka, seolah mereka sangat tertarik dengan ceritaku sehingga terus saja bertanya mengapa dan bagaimana.

"Mengapa teman Bunda jahat? KOk jatuhan cuklee sih bunda?" tanya si kecil polos.

"Sebenarnya temen Bunda ga jahat sih.  Jadi dulu bunda kan suka mainan sama cuklee, dikeluarkan cuklee dari akuarium terus diajak main di lantai dan kadang ya sekedar dipegang gitu atau makan dari jari bunda.  Nah, teman Bunda saat itu datang ke tempat Bunda.  Melihat Bunda main sama cuklee mungkin dia tertarik dan pingin gendong juga di telapaknya.  Karena cuklee biasanya kalau di taruh telapak keluar kepala minta makan, nah waktu teman Bunda bawa cuklee begitu kepala cuklee itu keluar dan membuat di kaget dan melempar cuklee ke atas dan sampai akhirnya jatuh di bagian cangkang terlebih dahulu.  Sejak itu Bunda ga pernah lagi melihat cuklee mengeluarkan kepalanya saat mendekat atau memanggil namanya.  Sedih deh..." jelasku dengan nada sedih.

"yah, bunda kasihan.." sahut si kecil sambil mencium pipiku.

"Bunda terus bagaimana? marah atau bagaimana sama temannya Bunda yang itu?" Tanya anak pertamaku ingin tahu 

"Yang jelas begitu dilempar Bunda teriak dan terlambat, begitu jatuh Bunda lari dan mengambil Cuklee.  Pengen sih marah, tapi gimana kan ga sengaja teman Bunda.  Ya, cuman bisa sedih gitu deh" sambil menghela nafas panjjang ku jawab pertanyaannya.

"Aku jadi pingin pelihra seperti cuklee" Jawab si kecil

Rupanya kalimat anak keduaku membuat aku berpikiran sama dan akhirnya kita keluar dan membeli 2 ekor kura-kura.  Keduanya diberi nama oleh anak keduaku, dia memberi nama Showa dan Zidah.  Hhhmmmm..anak keduaku ini nge-fans sekali dengan keluarga halilintar sampai nama kura-kuranya di beri nama seperti nama anak keluarga halilintar (maaf ya Showa Halilintar dan ZIdah Halilintar).

Sampai di rumah, mereka senang sekali bermain dengan kedua kura-kura tersebut.  Sayangnya, Zidah hanya bertahan seminggu.  Sejak pertama beli memang suda htida kbegitu sehat kura-kura yang bernama zidah.  Seminggu kemudia berganti Zidah yang mati karena saat di jemur pagi hari kami tidak menungguin ternyata Showa saat mau mencoba naik badannya terbalik.

Astaga, sedihnya saat itu kami melihat keduanya mati.  Selama satu minggu tanpa kura-kura di rumah ternyata aku dan anak-anak kangen sekali memeliki peliharaan kura-kura d rumah.  Bagaiamana selanjutnya, beli lagikah kita? Apakah mati juga? Kali ini mengapa? 

Tayangan selanjutnya ya ..


Lahirnya Kakak Dio



Tepat tanggal 15 Februari 2010 adalah hari dimana aku akan mendapatkan pengarahan para CPNS 2010 yang diterima melalui pengumuman Desember 2009.  Hari tersebut pastilah mendebarkan bagiku yang sudah menjadi GTT di sekolah selama 1,5 tahun.  Kondisiku saat itu dalam masa kehamilan 9 Bulan, menantikan kelahiran anak pertamaku yang di USG oleh dr. Fahi, Sp.OG dengan jenis kelamin laki-laki.  

Setelah shalat subuh, pukul 05.30 wibb aku menuju kamar mandi untuk bersiap diri akan kegiatan pengarahan CPNS.  Perutku saat itu terasa agak mulas dan benar, setelah mandi dalam kondisi masih berhanduk saja.  Tiba-tiba aku merasakan ada caoran yang keluar dari tubuh, spontan aku lihat ada tetesan cairan yang sedikit kemerahan.  Sebagai Ibu muda yang belum memiliki pengalaman melahirkan seorang baby,  tentulah kejadian ini membuatku panik dan lantas berteriak memanggil suamiku.

"abi, abiiii.. sini cepetan" panggilku 

seketika suami siagaku datang menuju tepatku berdiri dan kutunjukkan dimana kulihat cairan itu jatuh.

"Bi, apa ini? kok keluar gini ya?" tanyaku dengan panik.
"Aduh apa itu ya? Abi juga tidak tahu, sebentar! Ibu, Ibu" jawab suamiku sambil kemudian memanggil Ibu mertuaku.  
"Apa Gung, kenapa? Ibu ke pasar" Jawab Bapak mertuaku
"Pak, Anis kok keluar cairan apa ya pak?" Tanya suamiku kepada Bapak
"Lo, ga tahu Gung, cepet wes bawa ke Rumah Sakit saja" saran Bapak.

Lalu, suamiku meminta segera berganti baju dan menyiapkan mobil.  Saat itu di rumah hanya ada kami bertiga yaitu saya, suami dan Bapak mertua karena Ibu mertuaku sedang belanja di pasar yang letaknya cukup jauh.  

"Lo, bi gimana tapi aku kan ada undangan penyerahan? Gimana kalau aku dibatalkan jadi CPNS nya?" Tanyaku cemas.

"Aduh, pasti paham mereka dengan keadaan ini.  Masa dipaksa datang kalo lahiran di aula gimana? tenang ya fokus dulu ke persalinan oke! Gimana perutnya sakit ga?"

"Ga sakit tapi cuman ya aku ngerasa ada yang menetes" terangku

Setiba di depan UGD Rumah Sakit, tiba-tiba ada rasa yang keluar dan byurrrrrr
seperti air tumpah.

"Lo, apa ini? ketubankah" tanyaku

Suamiku tidak menjawab tetapi fokus dan sigap untuk mengantarku turun ke UGD dan menyerahkan ke perawat

"suster, tolong sepertinya ketubannya pecah" jelas suamiku pada suster yang berjaga di UGD dengan membawa kursi roda memintaku segera duduk.
Pertama kalinya aku duduk di kursi roda dan para suser mendorongku ke kamar bersalin, setelah diperiksa suster mengatakan masih bukaan 2 dan harus di infus karena ketuban mulai merembes.

Selama menunggu proses persalinan, kurasakan kontraksi-kontraksi luarbiasa rasanya.  Meski aku merasakan sudah tibanya si bayi keluar, para suster tidak mengijinkanku untuk mengejan mengeluarkan bayi.

"tunggu ya bu, tunggu dokternya datang ya" katanya
"tapi sudah sakit sekali dan rasanya mau keluar suster" pintaku
"belum, tunggu ya saya periksa.  Ini masih baru bukaan 3 kok" jawabnya menenangkanku.

Sambil terus menahan sakit, suamiku terus mendampingi di sebelah tempat aku berbaring di ruang bersalin dan menuntunku untuk bersholawat.

"Allahuma sholiala Muhammad..Allahuma sholiala Muhammad .."

...bersambung